Pertama, tulisannya lebih bersifat wangwangan, bayangan yang tidak sepenuhnya benar. Ibarat hadis, paparan Saudara Masmuni tidak dapat dikatakan sahih karena ia tidak mengikuti peristiwa secara langsung.
Kedua, Saudara Masmuni tidak pernah mengonfirmasi kegiatan tersebut kepada penyelenggara yang dari hari ke hari menghadiri acara sehingga informasi yang diperolehnya menjadi tidak utuh. Orang yang hadir penuh dalam acara di Indramayu, tidak sekadar datang lalu pergi setelah mengamati sekilas, akan tahu dinamika yang terjadi dalam hajatan nahdliyin Jabar itu.
Ketiga, kegiatan di Indramayu itu diselenggarakan bersamaan dengan Konferwil Jamiyah Ahli Thariqah al-Mu'tabarah al-Nahdliyah (JATMAN).
Dalam hal ini tulisan tersebut telah nyakompetdaunkeun (menyamaratakan) bahwa acara di Indramayu adalah semata perhelatan "politisi". Banyak di antara peserta Konferwil JATMAN dikenal sebagai kiai dan ulama yang ikhlas membina umat dan jauh dari dunia politik. Tidak sedikit dari mereka yang kritis terhadap kepemimpinan PWNU sekarang, tetapi mereka tetap berkhidmat di NU melalui JATMAN sebagai upaya mengawal moralitas NU. Mereka inilah penjaga gawang NU dan masih bertahan di wilayah Jabar, yang tidak tergoda oleh "imajinasi" politik dan "seksi"-nya pragmatisme politik praktis. "Politisi" mengurus NU
Bahwa struktur PWNU Jabar masa khidmat 2006-2011 sebagian diisi oleh para mantan politisi adalah benar. Akan tetapi, AD/ART NU tidak pernah melarang mantan politisi untuk mengurus NU. Larangan hanya berlaku untuk politisi yang aktif. Kepengurusan PWNU Jabar telah dikukuhkan dengan surat keputusan dan pelantikan oleh PBNU.
Sekalipun perolehan suara dalam Konferwil PWNU di Karawang sangat ketat, hanya berbeda satu suara, pihak yang kalah dengan legawa menerimanya. Tidak ada konferwilsus sebagaimana lazim terjadi di partai politik. Hal ini menunjukkan bahwa masih ada kedewasaan dan penghargaan pada hasil demokrasi di lingkungan nahdliyin Jabar. PWNU Jabar pun kemudian menerima siapa saja warga NU yang berkomitmen membangun jamiah, termasuk Saudara Masmuni yang menjadi Sekretaris PW Lakpesdam NU Jabar.
Masuknya mantan politisi ke dalam struktur PWNU itu memang telah membawa warna dan dinamika tersendiri. Selain mereka, ada pula para profesional yang berkomitmen untuk menata manajemen organisasi, dan para kiai pesantren yang memiliki kontak langsung dengan umat. Di antara mereka ada kompetisi yang sehat untuk segera membawa PWNU Jabar ke posisi yang seharusnya.
Mantan politisi yang biasa berhubungan dengan birokrasi selalu berorientasi ke arah bagaimana mengajak pejabat struktural pemerintah agar mendukung program-program NU. Sebaliknya, pengurus yang datang dari kalangan profesional lebih melihat pada sumber daya manusia (SDM) NU sendiri. Benahi dulu SDM, baru kemudian membuat nota kesepahaman dengan pemerintah. Sementara para kiai ingin agar semua program itu benar-benar sampai kepada umat karena mereka yang berada di garis paling depan. Mantan politisi ingin serba cepat, profesional ingin semuanya rapi dan terkontrol, dan kiai ingin semuanya diridai Ilahi.
Dalam praktiknya, memang tidak mudah menyatukan tiga kutub itu. Mukerwil PWNU dan Konferwil JATMAN di Indramayu sebagai salah satu buktinya. Diakui bahwa penyelenggaraan hajatan tersebut belum mencapai hasil maksimal. Selain dinamika internal yang menyebabkan pengurus belum bisa bekerja secara padu dan utuh, melaksanakan dua acara sekaligus ternyata menuntut tenaga dan pikiran yang sangat ekstra. Hal itulah yang agak luput dari persiapan penyelenggara. Namun, pengalaman berharga itu merupakan catatan penting bagi PWNU dan menjadi bahan evaluasi. Program konkret
Mukerwil PWNU di Indramayu telah menghasilkan sejumlah rencana program yang konkret terkait dengan upaya pengentasan warga Jabar, yang sebagian besar terdiri dari warga NU, dari kemiskinan. Untuk itulah mukerwil mengundang Kepala Bapeda Jabar untuk mendiskusikan program apa saja yang memungkinkan warga NU dapat berpartisipasi.
Selain itu, dalam rangka penguatan ajaran ahlusunah waljamaah (Aswaja), Lembaga Pendidikan (LP) Ma'arif NU Jabar dalam waktu dekat akan menerbitkan buku ajar Aswaja untuk tingkat SMP dan SMA. Forum mukerwil telah memberikan banyak masukan bagi penyempurnaan buku ajar tersebut. Secara khusus, setelah pelaksanaan mukerwil, pengurus LP Ma'arif dari cabang NU se-Jabar melakukan studi banding ke sekolah NU yang dikelola LP Ma'arif PCNU Indramayu. Dari kunjungan ini, semakin dirasakan pentingnya buku ajar Aswaja yang khas Jabar karena secara kultural NU Jabar berbeda dengan NU Jawa Tengah atau Jawa Timur.
Mukerwil PWNU dan Konferwil JATMAN di Indramayu, 31 Mei-2 Juni 2007, membuktikan bahwa acara NU masih didatangi umat. Pembukaan tersebut tercatat sebagai kegiatan NU tingkat Jabar yang paling banyak dihadiri umat sekalipun dilaksanakan di bawah guyuran hujan. Ratusan pasien mengantre untuk mengikuti pengobatan gratis yang dilaksanakan Lembaga Pelayanan Kesehatan NU. Kenyataan tersebut sangat membesarkan hati para pengurus, bahwa umat NU khususnya di Indramayu masih memercayai PWNU. Namun, juga menjadi catatan penting bahwa PWNU harus mampu membuktikan semua program yang telah dihasilkan dalam forum mukerwil.
Penyelenggaraan mukerwil diakui memang belum sempurna, tetapi secara tegas bisa dinyatakan tidak ada kesepakatan politik apa pun yang dihasilkan dengan pihak di luar NU. Sebab, NU memang bukan partai politik sekalipun sejumlah mantan politisi sekarang menjadi pengurus. Kesepakatan yang ada adalah rencana kerja sama dengan pemerintah dalam pengentasan kemiskinan dan program pemberdayaan ekonomi umat.
Bahwa Gubernur Jabar hadir di acara tersebut adalah kewajaran belaka karena nahdliyin adalah bagian integral dari warga Jabar. Apalagi, NU merupakan organisasi massa dengan jumlah jamaah terbesar di Jabar. Kehadiran KH Hasyim Muzadi pun menjadi lumrah karena ia adalah Ketua Umum PBNU.
Dengan demikian, jika melihat dari dekat pelaksanaan Mukerwil PWNU dan Konferwil JATMAN di Indramayu, tidak ada hal-hal yang mengakibatkan "iman" para kiai NU terganggu. Bahwa ada kiai yang protes, itu semata-mata pada teknis pelaksanaan dan bukan pada hal yang lain.
Di sisi lain, mukerwil di Indramayu dapat disebut telah ikut membangun ukhuwah islamiah dengan hadirnya para ketua ormas Islam pada waktu pembukaan. Mukerwil di Indramayu adalah untuk NU semata. Bahwa di antara pengurus NU ada yang memanfaatkan mukerwil untuk kepentingan pribadi, tentu PWNU tidak bisa menghalang-halanginya sepanjang hal itu tidak melanggar AD/ART NU. Wallahualam. WAHYU WIBISANA Sekretaris PWNU Jabar
1 komentar:
Click Juga ke http://kapmi.org
Posting Komentar